Khamis, 5 Mei 2011

Hijrah dari mimpi

jam sebelas,,,
malam itu dibawa sepi
sepi lahir dari hati
meski di sini terdengar riuh tangisan suara bayi
malam ini datang dengan begitu sunyi
dipukau apa lenaku di sini

terbawa kemana jasadku hilang
roh jua tak tahu kemana terbang
bibir bertanya suara tak terlayang
yang kulihat hanya satu bayang..
meskipun gelap kutatap terang..
dan suara itu sarat terngiang
memaksa jasadku segera pulang
sakit dipalu bukan kepalang!!!

saat itu dimana suamiku?
dimana anak-anakku?
dimana keluargaku?
tiada,,,segalanya sepi lantaran soalan tak terhenti!
Siapa Tuhan mu?Apa peganganmu?
Siapa nabimu? Apa agamamu?
Dimana kiblatmu? Siapa saudaramu?
Segala persoalan itu masih dibenakku..
Aku tahu bila masanya soalan itu dituju..
ya..disaat mati!!
Apakah aku sudah mati?
berkali kali ditanya berkali dipalu,,
inikah yang dikatakan azab ?
inikah yang mereka sebut siratul mustakim?
inikah bara api yang aku sendiri nyalakan dulu?
inikah yang diceritakan azab getirnya bagi yang mungkir?

terasa lemah segala jasad membungkam segala hijab
didada deras degup tiada daya terbungkam segala hakikat
hakikat dosa!
hakikat noda!

tiba terhenti segala seksa
bukan kerna dihantar aku ke syurga
bukan bererti telah terbalas segala dosa
tapi semua ini adalah peringatan dunia
peringatan semata!

terasa disentuh hangat jemari pada kaki
dan jelas aku bermimpi
mimpi segala peringatan pada janji
janji yang sejak azali
janji pada yang abadi
janji yang telah termungkiri
mimpi ini perlukan aku untuk berhijrah peribadi

dalam syahdu ku dakap sebuah kitab
yang isinya telah termaktub
terbentanglah di sana sekalian hijab
yang kulihat menantiku hanyalah azab
dan hijrah dari mimpi kali ini jelas bersebab!!!!

Selasa, 26 April 2011

mimpi sendu bayang rindu

dikala malam diulit mimpi
hadirmu diiringi sinar bulan
dihiasi kerdipan bintang
menerangi lena malam yang gelita

untuk apa dikau menjelang
andai hanya berlindung
dibalik awan nan sendu
mengusik mengejar rinduku

tahukah dikau laut jiwaku
masih bergelora ombak pilu
hentikan angin menyeru pantai
agar rindu tak dilanda badai

masih dapat aku rasakan
pada saat nafasmu pergi
jasadku yang tak terdaya
kian berlegar bait kenangan

haruskah kumenanggung rindu
dek sayang masa nan lalu
dan mengutip daunan layu
yang gugur dipusaramu

malam kian berganti malam
kau masih hadir dalam mimpi
kosong kurasakan hati
hanya menggamit kisah silam

kau adalah nyanyian mimpi
menyeru aku menari
bersama bayangan fantasi
lamunan dalam realiti

cukuplah aku sudah lesu
menjejak tari bayangmu
dan takkan ku menghitung hari
menanti engkau kembali

dalam rindu kubisik namamu
ketika sendu aku termangu
mimpi terakhir kau senyum padaku
bersama hujan turun di matamu,,


Isnin, 25 April 2011

menjejaki jejak yang telah terjejak

keterpaksaan aku di sini
menekankan jiwa sendiri
ketidakpastian aku berdiri
menyakitkan menyelinap sanubari
ketandusan cinta yang diberi
membuat aku seia berlari
dengan langkah yang penuh sarat duri
dihambat luka semalam yang zahir dari mimpi
mimpi apakah yang datang mengiringi?
hingga aku ketakutan begini
hingga aku penasaran sekali

hatta bait semalam telah jauh aku tinggalkan
sekalipun duri yang menjejaki telah aku lumatkan
mimpi semalam telah aku hanguskan jadi pengalaman
telah aku hapuskan segala-galanya buat kepastian kehidupan
kehidupan yang aku sendiri butuhkan
kehidupan yang lahir dari warna keindahan

aku tidak lagi ingin dijejaki langkah yang telah musnah
aku tidak ingin lagi menjejaki keperitan yang bisa bernanah
biar kuhayun jejak yang telah terjejak ini biarpun terasa payah
biar bergetar hari semalam diinjak bila aku melangkah
biar aku bertatih sekalipun bahkan semangatku takkan goyah
semalam dan kelmarin mendayungkan aku menjadi tabah
hari ini dan esok akan aku luncurkan menjadi gah!!!

begitu susah menjadi aku
terlalu senang menjadi kaku
itulah aku..
yang memautkan kehidupan berteleku
pada kepastian yang zahir di mataku
aku dan kehidupanku
keterpaksaan dan kerelaan...

kecurangan sang bulan

seperti malam ini yang tak bertemankan bulan
seperti malam lalu juga yang kehilangan bulan
lara dan sepi
apakah kerana bulan telah dinodai cinta
cinta sang mentari pagi yang membawa bulan ke sana
hingga melenyapkan malam yang indah
atau mungkin jua kerana sang bulan sendiri yang dusta pada janji dan mimpi
dari hati sang malam yang ketandusan cinta dari sang bulan
mengapa kau curang wahai bulan??
apakah aku tak sehebat mentari pagi
sedarkah kau wahai sang bulan
mana mungkin sang pagi menerimamu untuk menemaninya
tempatmu bukan di sana wahai bulan
kembalilah padaku kita ukir semula bicara cinta kita
aku sedia menerimamu walau sekalipun
langit menjadi lantai dan tanah menjadi bumbung
apakah tegar hatimu wahai sang bulan
melihat aku keseorangan memayungi bumi tanpa cahaya darimu
apakah kau tegar melihat malam yang suram bukan seperti sebelumnya
kembalilah wahai sang bulan temani aku semula
dalam kegelapan indah yang kita janjikan bersama
jangan kau tinggalkan aku seperti mimpi-mimpiku yang sebelumnya
jika ditanya pada hati
tidak ingin aku begini
biarkan lah aku sang malam dan kau sang bulan!!
aku ingin kebasahan bersamamu tika hujan
aku ingin diselimuti cahaya indahmu!!
aku ingin berpelukan dalam kegilaan bersamamu
kembalilah wahai sang bulan
temani aku di sini

kesesatan mimpi atau hakikat kekesalan

setelah bulan menabir wajah dibalik awan
malam kian beransur tua menjadi kelam
meninggalkan bait-bait semalam
mencorak titik-titik kenangan
menjadi lukisan dalam mimpi
mimpi apakah yang datang menjengukku??

sepertinya aku sesat pada satu jalan
sepertinya aku berlari mencari kenangan
apakah yang mungkin aku temukan dalam kesamaran?dalam kekaburan perjalanan??
lantasnya aku mneghela nafas kelegaan
setelah kulihat kamar harapan
sepertinya ada sinar impian
lantasnya kuheret langkahku yang kian sarat kehampaan

tiba aku di kamar itu
aku terpaku jadi termangu
ruang kamar yang aku jejaki
tiadalah seindah luaran yang aku saksikan

barulah aku tahu isinya adalah kegelapan
aku meraba-raba di dalam kesamaran
langsung tiada setitik cahaya meneranginya
aku menangis di situ
aku tak betah melangkah lagi

sedang langkahku terlalu tenat
aku takut,,
andainya kegelapan ini aku yang menghuninya
atau mungkin jua akn datang cahaya dari liang-liang kehidupan
dan aku terlena disitu dalam persoalan yang hampa

tanpa kutemu jalan kehidupan
setelah aku tersedar,aku menjadi bingung
di mana aku??
dan apakah ini mimpi yang ngeri??
atau realiti yang sedang aku lalui???

Ahad, 24 April 2011

Cerita Sebuah Pusara

kulewati sebuah pusara yang dua hari lalu dihuninya
bersama kaku berdiri dua nisan
masih lagi setia harum puspa kemboja
menhiasi pusara sepi tanpa suara kelu tanpa kata
segalanya mati..segalanya mati pada hati berduri

pusara itu miliknya sebuah pohon jiwa yang rapuh
miliknya dahan hati yang luluh
miliknya daun kehidupan yang luruh
pusara itu miliknya ayahku.....

penghuni pusara derita itu, hempasan ombak hidupnya begitu ganas
hingga meloloskan pegangan pada dahan pautan
gelora laut jiwanya begitu deras..deras sederas ombak mengejar lautan
hingga satu saat menampar benteng kekuatan
merobohkan harapan,tersungkur impian dijelapang kesesatan
lantas,lantas buntu akal kewarasan
jauh terbenam pertimbangan ditelan debu debu putih yang kononnya suci
lalu terdamparlah dikau dilorong yang sempit,jijik,hina

dan kalian semua yang mendengar coretan ini pasti mengerti
ombak badai dan lautan gelora itu adalah angin taufan seruannya sendiri
Ahh!!!kononya tak apa terhina apalagi dibuang saudara!!
"dadah itu pemusnah"!!kata itu pernah lahir dari alur lidahmu
namun mengapa kau muntahkan segala kata?
mengapa kau bakar pohon harapan,pohon pautan,pohon kehidupan?
untuk apa kau jadikan ia syurga tenteram sedang ia neraka segala jahanam?
membakar!!memusnahkan impian,meluluhkan harapan,terus jadi kelam
dan kau di situ untuk apa?kosong,,kaku,,berteleku..

aduh!!aduh!!jasad longlai itu batinnya tersiksa..merana
jiwanya parah dihakis Debu debu putih yang berbaur durjana
menggeletar tubuh kaku itu kedinginan
saat itu tiada lagi cahaya menyinari..
"dimana keluargaku??dimana isteriku??dimana anak-anakku??"kosong...
dihadapannya penuh onak duri
dibelakangnya semarak api sengsara menyala membakar diri
yang muncul di ruang matanya hanaylah liku-liku kematian
yang lahir dijiwanya hanyalah titik titik kekesalan
kekesalan???untuk apa kekesalan??

pada saat nafas ayahku terbawa pergi
dia juga punya derita untuk dikongsi
bukan dicaci bukan dimaki
dia juga punya harapan untuk diberi
walau sedar harapannya telah lama tersungkur,,gugur,,
"dadah itu pemusnah"!!!kata yang dulu dimuntahkannya kini ditelan kembali
namun sayang,,segalanya hampa,,segalanya sementara..

dan buat kalian yang hilang tujuan
nah!!!inilah jalan inilah pesan
carilah haluan binalah kebangkitan
benar..benar,,,,perlu ada yang terkorban
untuk kita mencari jalan
dan megutip lautan iktibar di persisiran penyesalan..

keabadian kasih dalam kesesatan cinta

Bercerita tentang kehidupan
mungkin ada yang sudi mendengarnya
biarkan cerita ini menjadi simfoni mahupun puisi
kerana pendendangnya adalah milik sebuah hati yang lara
akibat jatuh dibuai cinta, lumpuh jiwanya
kian sarat dipenghujung rindu
terlantar dalam bayangan waktu
cinta itu pernah mengulit tidurnya
membawa jauh ke titian kehidupan
yang dimatanya adalah warna pelangi
hakikatnya mendung yang membawa perkhabaran derita
dan bila tersedar sesudah terlantar
apa yang tinggal hanyalah sisa kekesalan dan tangis sendu
apakah mungkin terubat luka yang sarat bernanah itu?
dan sebenarnya cinta yang terluka itu adalah milikku
dan hati yang kian reput itu adalh aku!!
aku yang mencoretkan puisi cinta luka
aku yang merasa panasnya bahang api cinta
yang akhirnya mencampakkan aku kehangatan
namun syukur....
dalam kehangusan kepanasan itu
aku masih bisa berlari pada setitik air jernih
yang dulu kucampakkan untuk merasa bahangnya api cinta
dan kerana itu aku masih bisa bernafas hinga kini
menunggu saat datangnya cahaya walau pada saatku mati
kupasrah.
ini kehidupanku..
akan aku tempuhi
akan aku gagahi
walau aku tak bisa lagi berdiri
walau aku kekerinagn di sini

dan kesepian ini megajak aku untuk pulang
mencari erti sebenar kebahagiaan
setelah kutingalkan hari hari kelmarin
dengan penuh persoalan
takut andainya hari ini menghantuiku
dengan ejekan nafas kelmarin
nafas semalam begitu sesak
sarat dengan ketakutan
batinku kepenatan mencari
entah apa yang aku cari dalam hidupku
aku di sini tiada erti
meratapi kekosongan hati sendiri
aku benar-benar kehilangan
aku tak mampu lagi keseorangan dalam ratapan yang begitu menekankan

dalam kesempatan yang ada
kucoretkan kelukaan hatiku
pada sekeping kertas putih
penaku menari mengkalamkan kedukaan
yang entah pada siapa harus aku luahkan

hanyalah pada puisi ini kudendangkan hidupku
penaku dan helaian putih ini menjadi teman bicaraku
mungkin sudah tiba waktunya aku pergi
walau aku amsih membutuhkan kehidupan ini
aku terpaksa pergi walau masih dahagakan kebahagiaan
aku sebenarnya tak mahu mengakhiri kehidupan dengan penuh ratapan
aku rindukan dengan apa yang aku tinggalkan
namun bagaimana harus aku pulang?
dimana telah aku campakkan kehidupanku?
dan biarlah aku begini
kerana aku adalah yang hanya mampu mencoretkan kehidupanku
menjadi puisi kekesalan,,
aku...
alhamdulillah.....

Sabtu, 23 April 2011

diari dahan harapan(NUR SHARINA)

Nak kugapai indah bintang di langit terang
Nak kusimpan jadi penyuluh hidupku kelam
Nanti terang segala yang kelam pasti terueai segala yang kusut

Untuk aku menjadi dewasa
Utuhnya benteng hidup telah aku dirikan
Upayaku tidak membatasi keringatku

Renangi lautan luas bukan lagi sukar bagiku
Rasai kepahitan, kepayahan bagaikan sebati untuk aku kalamkan dalam diari hidupku
Rasanya kini, resah gelisah bukan lagi temanku, bukan lagi bicaraku

Seandainya semalam adalah masa silamku masa kelamku
Sedia aku tadahi esok mendatang penuh harapan
Sampai satu saat segalanya terhenti,,kosong,,kaku,,

Hari ini aku dengan nafas baru, jiwa baru
Hati ini telah dibina seteguh dermaga, tiada luluh mahupun digegar guruh
Hancur luluh sekalipun jasad ini memegang kukuh dahan kekuatan

Apakah tersungkur jua harapanku??tidak..tidak sekali,,harapanku utuh

Ranjau dan duri kehidupan akan kugubah menjadi debunga harapan
Rona rona perjalanan akan aku lumatkan menajdi abu
Rantai yang membelenggu jiwa akan kuleraikan simpulannya, kulepaskan ikatannya

Inilah teguhnya harapan dahan hidupku
Inilah satunya pohon aku bertahan
Inilah pohon harapan, pohon kekuatan,pohon kejayaan

Nanti satu saat andai gugur daun dahan kukuh menyelimuti bumi
Namun hakikat perjuangan masih dipersada impian
Nokhtah harapan, titik perjuangan tiada akan selesai, tiada penghujungnya

Aku bernafas didada realit, bukan lagi fantasi,jauh sekali mimpi
Agar aku bisa fahami,hidup ini tiada hakiki
Akan aku gagahi,akan aku hargai kerana hidup hanya sekali,