Sabtu, 22 Julai 2017

kita kelu

suamiku
lewat kebelakangan waktu
musim ombak menderu
memukul menghempas pilu
dan kita sama sama terkelu

aku juga turut tersoal dalam bicara tiada jawab
berapa banyak lagi batas sabar aku yang dituntut?
setelah Patah tulang temulang  aku menempias puaka
Ketar tubuh aku menahan seksa
berteraburan paku,jarum dan buluh yang berjampi maut
sehingga beginilah jadi aku pada ketika ini
kaku tak berguna

suamiku
bertahun dulu kita pernah bersilat dengan pancaroba yang paling derita
kita telan dan hadap walau seksa
dan ketika itu aku masih sanggup

tapi suamiku
kebelakangan ini aku sepertinya tewas
apabila buat kedua kalinya aku gagal berdiri sendiri
apabila segalanya menjadi terbatas
dan semuanya gelap buat aku

suamiku
maafkan aku bilamana wajah aku kusam tak seperti dulu
maafkan aku diwaktu aku gagal menguruskan diri
maafkan aku disaat aku tidak seceria dulu
maafkan aku untuk waktu yang kelam ini
aku tahu ketidak berdayaan ini mengheret kau sama ke alam gelita
dan mahu saja aku telan semua ini sendiri
agar aku tidak melihat wajah kamu yang tersenyum dalam pilu
demi menabahkan isterimu.

suamiku
yakin atau tidak
kamu harus percaya
bahawa segalanya sementara saja
dan selepas ini kamu harus terbang bebas
hiruplah udara segar sedalam dalam
senyumlah seperti yang kau angan..

suamiku
terima kasih sedalam dalam
selamanya aku ingat
waktu kau gendong aku yang berat
waktu kau sikat rambutku yang tersekat
waktu kau rapi aku dalam sepi
dan pada waktu itu mata kita sama sama berkaca
aku nampak walau kau alih pandang.

nur sharina cik ibrahim
18 Julai 2017
-kamar kita-